Di Kota Aceh Grafik Judi Online Semakin Meningkat

Data mengungkap fakta mengejutkan dimana grafik perjudian online sangat tinggi di Aceh. Kondisi ini tentu saja bertentangan dengan prinsip Islam di provinsi paling barat Indonesia ini.

“Kebetulan saya punya teman yang bekerja di IT. Dia menunjukkan kepada saya grafik judi online di Aceh sangat tinggi,” kata antropolog Aceh Reza Idria, MA PhD kepada Serambi saat masih menjabat. menjadi narasumber untuk program podcast Serambi beberapa waktu lalu.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry mengatakan, kondisi ini sebenarnya menjadi peringatan bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. 

situs judi qq online

Ternyata ada masalah yang lebih besar saat ini daripada masalah pembangunan infrastruktur atau pilkada.

“Sebenarnya sangat penting bagi para pendidik seperti saya kita sebut ulama dan pemerintah bahwa ada masalah yang nyata dan besar, daripada berbicara tentang politik dan infrastruktur. Percuma bila sumber daya manusia rusak,” ujarnya. .

Reza menjelaskan, kebesaran Aceh tidak hanya ditunjukkan melalui pembangunan fisik seperti jalan raya, jembatan, masjid besar dan lain-lain, tetapi juga bagaimana pembangunan manusia benar-benar dapat memberikan kontribusi bagi orang lain.

Karena selalu sering kita membicarakan masalah besar sepanjang waktu sementara hal-hal seperti itu terjadi di masyarakat. 

Kita sering merindukan cara kita memandang masyarakat kita, bahwa kita berada dalam keadaan perubahan besar karena ada revolusi di masyarakat. Teknologi informasi memang ada, “katanya.

Sejak revolusi digital, Reza telah menunjukkan bahwa nilai-nilai kehidupan telah berubah secara dramatis, termasuk dalam keluarganya sendiri. 

Sehingga kasus kejahatan narkoba dan pemerkosaan yang berbeda terjadi berulang kali di Serambi Mekkah.

Kasus mengenai judi yang belum pernah kita dengar sebelumnya di Aceh tidak bisa kita pungkiri, tapi itu terjadi hari ini. 

Sebenarnya ini seruan kepada kita bahwa dalam narasi besar yang kita bangun tentang Islam kita dan sebagainya. , ada sesuatu yang hilang, “katanya. .

Oleh karena itu, PhD di Jurusan Antropologi Universitas Harvard ini mengajak semua pihak untuk bereaksi secara sensitif terhadap kondisi saat ini dan menjadi wacana. 

Sejauh ini, baik pemerintah maupun cendekiawan, termasuk pendidik dan orang tua, tidak menyadari bahwa nilai-nilai sedang berubah dalam kehidupan.

Dalam kesempatan yang sama, Reza Idria juga mengungkapkan dalam sebuah penelitian yang memperkirakan bahwa seseorang yang tidak mengubah perilakunya terhadap ketergantungan perangkat akan berdampak pada perubahan struktur tulang leher.

Kondisi ini bisa terjadi karena setiap orang melihat layar ponselnya dengan cara melihat ke bawah. Sehingga tulang leher juga mengikuti gaya hidup orang yang bungkuk seiring berjalannya waktu. 

Jika kita tidak mengubah perilaku gawai, maka akan berdampak pada perubahan struktur tulang leher,” ujarnya.

Reza mengatakan, pihak yang sangat berperan dalam mengatasi masalah ini adalah para orang tua. 

Menurut saya, kunci dari mengatasi masalah ini adalah keluarga. Setelah itu pemerintah, jadi saya menghimbau orang-orang baik di pemerintahan untuk mengatasi situasi ini,” ungkapnya.

Artikel ini telah tayang di serambinews.com